OPINI

Media, Propaganda dan Wacana Publik
- - depoknews.com | Friday, 22/2/13 , 10:30 WIB | 533 Views | 0 Comments

tvOleh : Juma Darmapoetra  

Beberapa pekan terakhir, media social dan elektronik begitu gencar memberikan korupsi daging PKS dan kegaduhan politik Partai Demokrat. Media seolah mengobok-obok dan mengupas borok dua partai ini. Mulai dari adu domba politik dalam PD hingga isu desakralisasi agama PKS. Selaku penonton, kadang saya merasa tidak nyaman dengan pemberitaan ini. Ketidaknyamanan ini bukan berarti keberpihakan, akan tetapi saya seperti mendapatkan terror kognitif secara terus menerus yang dilakukan oleh media.

Pikiran atau kognisi saya diarahkan untuk membenci, mejelekkan dan mengutuk satu dua orang atau partai. Padahal, logika korupsi bukan hanya PKS, ada banyak korupsi. Bagi saya Media sebagai kekuatan demokrasi telah berubah menjadi alat propaganda demi keuntungan oknum dan elit tertentu yang berkepentingan secara politik.

Kekuatan media massa sebagai kekuatan keempat demokrasi menjadi salah satu penentu dari wacana yang berkembang di public telah memerankan antagonism dalam demokrasi. Media berperan sebagai lakon yang dapat mempengaruhi pikiran public untuk berkomentar ini dan itu. Maka tidak berlebihan kalau ada statemen dari politisi; “media jangan memperkeruh keadaan atau media jangan mempolitisi statemen tertentu tokoh politik.” Ini bukan pesan sederhana, tetapi pesan bahwa media dapat menjajah pikiran publik. Pikiran public akan mampu diarahkan untuk mencaci, mencerca atau membenci.

Media berfungsi sebagai sarana informasi, persuasi, menghibur dan alat control social. Kekuatan inilah yang menjadikan media mampu membentuk opini public dan mengarahkan opini public. Media social menjadi antagonism demokrasi ketika berita dan informasi diberitakan untuk membentuk wacana public yang mengarah pada pengkeruhan sebuah control social.

Dalam teori agenda setting, bahwa komunikasi yang terjadi di media (massa atau elektronik) tidak hanya menyediakan beberapa isu ke public/masyarakat, tetapi memberikan penekanan lebih terhadap beberapa isu agar pola piker masyarakat teragendakan. Menurut Bernard Cohen “the mass media may not be successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about.” (media massa mungkin tidak berhasil dalam memberitahu kita apa yang harus dipikirkan, tetapi mereka berhasil memukau dalam memberitahu kita apa yang harus dipikirkan.)

Konsep agenda setting mendeskripsikan sebuah pesan bahwa media berperan penting dalam membentuk realitas social. Ketika sebuah media menyiarkan atau menayangkkan sebuah isu politik, public/masyarakat dengan sendirinya belajar akan pentingnya isu tersebut untuk digulirkan sebagai penegasan oleh media.

Dalam konteks ini, guliran kasus suap daging oleh presiden PKS dan huru-hara politik Partai Demokrat menemukan realisasinya. Dua kasus ini begitu kontinyu disiarkan secara live di berbagai media, seolah menegaskan bahwa kedua partai ini begitu banyak boroknya. Penayangan borok PKS dan PD begitu menyita perhatian public. Isu yang disiarkan secara kontinyu pada akhirnya akan membentuk pikiran kita. Kita “dijajah” secara kognitif untuk membenci atau mencela sebuah tokoh dan partai.

Kita tentu masih ingat bagaimana kisa Prita Mulyasari, ibu yang dipenjara karena mengeluhkan pelayanan rumah sakit melalui email dan mailist. Media mengekspose secara kontinyu, lalu lahirlah dukungan koin peduli Prita. Kasus Aceng, kasus BBM dan beberapa kasus yang dianggap fenomenal ditayangkan secara live dan disiarkan secara provokatif. Sehingga kekuatan social dapat digerakkan. Masyarakat mampu dipengaruhi secara halus pikirannya.

Phillip Elliot menjelaskan efek media massa yang paling kuat adalah bagaimana mempengaruhi secara halus khalayak untuk mempersepsikan peran sosial dan aktivitas pribadi yang rutin. Adanya pemberitaan isu politik secara kontinyu dan profokatif sangat berkaitan dengan agenda dan kepentingan politik elit tertentu untuk tujuan tertentu pula.

Media massa memegang sebuah framing untuk membuat suatu berita terus menerus ditayangkan di media sehingga muncul agenda public. Framing berarti seleksi atas sebuah isu dan menegasikan isu lainnya. Isu yang diangkat biasanya sensitive, seksi dan provokatif demi kepentingan komersial dan elit.

Kekuatan ini menurut Garth Jowett dan Victoria O’Donnell disebut sebagai propaganda yang sengaja dan sistematis membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakukan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda. Propaganda biasanya; dilakukan secara terus menerus (kontinyu); terdapat proses penyampaian, ide/gagasan, kepercayaan atau doktrin; mempunyai tujuan untuk mengubah opini, sikap dan perilaku individu atau kelompok; suatu cara sistimatis prosedural dan perencanaan matang; suatu program yang mempunyai tujuan kongkrit

Dalam kaitan dengan kasus korupsi dan isu politik yang digencarkan media, propaganda akan membentuk opini public. Dimana media sengaja menyiarkan isu ter-framing secara kontinyu dan live untuk mempengaruhi wacana yang berkembang di public. Ketika sebuah isu digulirkan secara terus menerus dan mendapatkan porsi yang sangat tinggi, maka wacana public akan mengarah pada sebuah justifikasi dan pembenaran. Kekuatan propagandis media memainkan perannya dengan baik. Masyarakat akan terpancing dengan isu yang dikeluarkan media.

Media massa memang sangat vital dalam membentuk isu public. Dalam konteks ini, pesan media tidak dapat dipisahkan dari keberadaan institusi media itu sendiri. Terlebih misalnya media massa dalam prakteknya berada diantara kepentingan negara dan pasar, elite tertentu atau pemilik media itu sendiri.

Ketika media berhasil menjadi alat propaganda, media akan berhasil secara ekonomi dan berhasil memenuhi hasrat elit tertentu untuk tujuan politik. Misalnya, Metro TV, TVONE dengan VIVA GROUP, MNC GROUP dan lainnya yang dimiliki oleh politisi. Iklan politik dan tayangan tentu tidak akan pernah menayangkan keburukan sang empunya dan institusi, tetapi berusaha menangkap isu politik lain untuk dijadilan headline dan isu politik yang hangat.

Media massa telah menjadi alat kepentingan politik elit tertentu. Melalui iklan dan tayangannya, media menyisipkan kepentingan dari institusi dan oknum tertentu untuk merebut perhatian publik. Dengan serangan isu dan wacana yang kontinyu, media telah menjadi terror menakutkan bagi masyarakat. Terror yang dapat mengubah jalan pikiran dan wacana yang berkembang di public.

Media bukan lagi sebagai kekuatan demokrasi yang mampu menjadi alat control masyarakat. Media justru takluk dibawah kekuasaan institusi dan kepanjangan tangan dari kepentingan politik elit tertentu.

 

Comments

comments

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


Baca berita lainya